Jumat, 24 Oktober 2008

Impor Harley Dan Cukai Rokok Palsu Digulung Oleh Bea Cukai Jatim




KRC,Surabaya -

Selama triwulan pertama tahun 2008, dua kasus importasi, 4 kasus cukai serta sebuah pelimpahan kasus cukai oleh Polres Kesatuan Polisi Pengaman Pelabuhan (KP3) Tanjung Perak Surabaya diungkap oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah Jatim I.Pengungkapan itu menghasilkan barang bukti sebanyak Rp 642 karton rokok dan satu unit motor Harley Davidson."Kasus itu telah menimbulkan kerugian terhadap negara sebesar Rp 1.102.654.441 miliar," ujar Kepala Bidang Penindasan dan Penyidikan Kanwil Dirjen Bea Cukai I, Harry Budi Wicaksono kepada wartawan di Kantor Dirjen Bea dan Cukai Jalan Tanjung Perak Timur, Jumat (11/4/2008).Dua kasus importasi itu adalah importasi Harley Davidson yang dilakukan Mario Illote dan Critiana Illote dengan modus memakai dokumen atau ata carnet dan diimpor dengan fasilitas barang pindahan. Sedangkan kasus kedua adalah importasi rokok palsu merek Malrboro sebanyak 309 karton @ 64 slop @ 10 bungkus, dengan modus memalsu identitas rokok tersebut yang diaku sebagai kompor gas.Dua kasus tersebut menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 859.069.440 juta. Sedangkan empat kasus cukai adalah pengungkapan rokok merek Icy Mild isi 16 batang sebanyak 16 karton @ 4 bal @ 20 slop @ 10 bungkus, yang diproduksi oleh PT JST Indonesia.Yang kedua adalah pengungkapan rokok merek Abramas, sebanyak 218 karton produksi perusahaan rokok Puncak makmur Sejahtera Malang. Kasus ketiga, pengungkapan rokok merek Nova sebanyak 37 karton @ 4 bal @ 20 slop @ 10 bungkus produksi perusahaan rokok Berliana Jaya Indonesia.Sedangkan yang keempat adalah pengungkapan 36 karton bahan baku rokok berupa tembakau siap linting, etiket rokok, slop rokok, grenjeng, slop dan lain-lain.Empat kasus itu telah merugikan negara sebanyak Rp 198.886.363 juta. Sedangkan kasus pelimpahan cukai dari Polres KP3 Tanjung Perak adalah kasus rokok merek best mild plus sebanyak 26 karton @ 4 bal @ 200 pack.Kasus ini merugikan negara sebesar Rp 41.699.138 juta. Selain dari hasil penyelidikan, pengungkapan kasus ini berhasil karena peran serta masyarakat. Seperti pada kasus pengungkapan impotasi palsu merek Marlboro. Karena sering dikomplain oleh konsumennya bahwa rokok Marlboro yang beredar rasanya lain dari biasanya, maka produsen yakin PT Philips Morris melakukan penyelidikan.Atas kerjasamanya dengan aparat setempat, diketahui jika konsumen sering komplain tentang rasa rokok Marlboro palsu di pasaran.(dd)

Rabu, 22 Oktober 2008

RSSA Dilaporkan Polwil Dugaan Korup Askeskin



KRC, MALANG -
Tersangka dugaan tunggal korupsi One Day Care (ODC) mata di RSSA Malang dr Safaruddin Refa melakukan perlawanan. Kemarin, dokter spesialis mata ini melaporkan institusi RSSA ke Mapolwil Malang terkait dugaan penggelapan uang askeskin senilai Rp 42 juta.

Didampingi Masbuhin, penasihat hukumnya, Refa datang ke Mapolwil Malang sekitar pukul 12.00. Keduanya langsung menuju ruang Kepala Jaga Polwil Malang untuk membuat laporan pengaduan. Setelah itu, Refa dibawa ke ruang penyidikan unit II Reskrim Polwil Malang. Di ruang tertutup itu Refa diperiksa polisi selama enam jam. Pemeriksaan dimulai sekitar pukul 12.30 dan berakhir pukul 17.30.

Masbuhin mengatakan, kliennya melaporkan kasus penggelapan dana askeskin senilai Rp 42 juta. Sebab, kliennya merasa tidak melakukan korupsi seperti yang dituduhkan kejari saat ini. Dengan laporan ini, Refa berharap polisi bisa menyelidiki raibnya dana askeskin itu. Sehingga nanti ada pembuktian siapa yang bersalah dalam geger dugaan korupsi di RSSA Malang ini.

"Inilah upaya kami untuk meluruskan kasus ini. Sebab klien saya (dr Safaruddin Refa, Red) tidak merasa mengorupsi uang tersebut," ujar Masbuhin kemarin.

Masbuhin menjelaskan, dalam pemeriksaan selaku pelapor kemarin, kliennya mendapatkan pertanyaan dari penyidik Polwil Malang sekitar 40 item. Pertanyaannya seputar kejelasan dana askeskin di ODC mata. Tidak hanya itu, kliennya juga membeberkan data lain yang lebih besar angkanya dibanding dugaan korupsi yang dibebankan pada SMF mata selama tiga tahun. Yakni sejak 2005 hingga Mei 2008.

Data lain itu terkait temuan bawasprov yang menyatakan adanya selisih kurang dalam layanan ODC mata sebanyak Rp 60,4 juta. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata ada 109 pasien askes dan 17 trabec yang ditolak billing system RSSA.

Sedang dari askes telah mencairkan klaim akses 109 pasien itu senilai Rp 42 juta. Bahkan, telah diklarifikasi pada RSSA dengan Nomor Surat 1165/13-08/0908 oleh manager Askes Roni Kurnia. Tapi anehnya data tersebut telah dimasukkan dalam BAP (berkas acara pemeriksaan) kejari. Namun, kata Masbuhin, kejari terkesan mendiamkan data tersebut.

"Kami berharap dari laporan ke polisi nantinya akan ada kebenaran dari data tersebut," tuturnya.

Terpisah, Kasubag Reksrim Polwil Malang Kompol Sudibyo membenarkan laporan dr Safaruddin Refa terkait laporan penggelapan dana askeskin di RSSA Malang. Polisi pun sudah mendapat keterangan dari pelapor dan selanjutnya akan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. "Saat ini kami sedang menyusun pemeriksaan saksi-saksi itu," kata Sudibyo.

Sementara, Direktur RSSA Malang dr Pawik Supriadi mengaku tak tahu menahu soal dana askeskin Rp 42 juta sebagaimana dilaporkan Refa ke polwil. ''Saya tidak tahu soal itu. Saya tidak tahu," jawabnya singkat.

Sekretaris RSSA Malang drg Lalu Suparna juga belum mendapat kabar bahwa dr Refa membawa kasus askeskin ini ke polwil. ''Kami belum tahu kebenaran laporannya. Tapi, kalau sudah begitu, kami no comment saja," tegas Lalu.

RSSA sendiri akan mengikuti proses yang berjalan. Urusan lapor melapor, kata Lalu, di luar wilayah RSSA. Tapi, menjadi urusan pribadi dr Refa. Meski begitu, jika sewaktu-waktu polwil memeriksa RSSA Malang, Lalu mengatakan RSSA sangat siap. ''Kalau secara resmi dimintai keterangan kami akan terbuka. Ini negara hukum dan hukum harus dijunjung di atas segalanya," tandas dia. (rd/j)

Senin, 20 Oktober 2008

Perampok PT CC Belum Terungkap Rp. 262,7 Juta Amblas




KRC, Malang

Keseriusan polisi mengungkap kasus perampokan di kantor PT Coca Cola Distribution Indonesia Sales Center Malang Selatan Jl Satsuit Tubun, Kebonsari, Sukun, pada Minggu (19/10) lalu, terus dilakukan. Itu terlihat dari upaya pengambilalihan penanganan kasus yang awalnya ditangani Reskrim Polsekta Sukun ke Reskrim Polresta Malang. 

Kapolsekta Sukun AKP Hutomo mengatakan, jika tidak ada perubahan, penarikan penanganan perkara dilakukan hari ini. ''Besok (hari ini) penanganan perkara sudah dilakukan polresta, polsek hanya membantu,'' kata Hutomo saat dihubungi via HP semalam. 

Di polresta, kata Hutomo, akan ada tim khusus yang secara intensif menangani serangkaian penyelidikan dan penyidikan kasus kriminalitas menonjol dalam tiga bulan terakhir. 

Meski penanganan kasus ditarik, namun polsek telah menuntaskan pemeriksaan tiga saksi tambahan dari satu saksi yang sudah diperiksa di hari pertama kejadian, yakni satpam Nurhidayat. Tiga saksi tambahan yang diperiksa adalah Sutikno (satpam), Wahyudi (satpam), dan Arif, pegawai serabutan bernama. Arif inilah yang menolong para satpam yang dilumpuhkan pelaku. ''Pemeriksaan tiga saksi tambahan berakhir hingga sore hari,'' ujar Hutomo. 

Sedang satu saksi satpam yang bertugas ketika perampokan terjadi yakni Sadrak Abed Nego belum diperiksa. Hingga hari kedua penyelidikan, polisi belum menemukan petunjuk yang mengarah pada pelaku. ''Keterangan saksi masih landai-landai dan sesuai kapasitas yang ia ketahui. Demikian juga hasil pemeriksaan cross check antara para saksi hasilnya masih relevan,'' ujar seorang anggota Polsekta Sukun yang menangani kasus ini.

Dari hasil sementara itu, polisi memastikan pelaku adalah kelompok profesional yang mengincar brankas uang. ''Setiap tahapan untuk melumpuhkan korban sangat cepat, bahkan satu satpam yang juga anggota Marinir berhasil dilumpuhkan,'' katanya. 

Sementara, packa-kerampokan, aktivitas kerja di PT Coca Cola Distribution Indonesa Sales Center Malang Selatan berjalan normal. Siang kemarin, dua pejabat perusahaan dari pusat yang membidangi keamanan dan finance datang ke kantor ini untuk mengecek kondisi kantor. 

''Aktivitas masih bisa berjalan lancar. Untuk masalah keamanan, sementara akan dibantu petugas keamanan dari area Surabaya,'' ujar Markuat, petugas bagian keamanan yang sidak ke lokasi kejadian siang kemarin. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pelaku diduga beraksi sekitar pukul 02.00 di kantor coca cola. Diperkirakan berjumlah empat orang. Satu dari mereka mengenakan cadar. Pelaku berhasil membawa kabur uang Rp 262,7 juta yang tersimpan di brankas. Untuk memuluskan aksinya, pelaku menyekap dua satpam yang sedang bertugas, yakni Sadrak Abed Nego, 59, dan Nurhidayat, 32. Saat itu keduanya ada di dalam ruang kantor administrasi keuangan. (rd)

Kamis, 26 Juni 2008

Ratusan Germo Jual Anak Dibawah Umur Ditangkap



WASHINGTON, KAMIS - Ratusan germo ditangkap dan 21 bocah diselamatkan ketika biro penyidik federal AS, FBI, memberangus jaringan prostitusi anak dalam beberapa hari terakhir. Departemen Kehakiman AS mengungkapkan, 16 kota menjadi target Operasi Lintas Negara yang telah berjalan selama lima tahun di seluruh AS.
Banyak di antara anak-anak yang dipaksa melacurkan diri sebelumnya melarikan diri atau diusir dari rumah karena keluarganya tidak menghendaki mereka. Menurut penyelidik, anak-anak itu umumnya dipancing masuk ke jaringan germo dengan diberikan penampungan atau obat bius. Tak jarang mereka juga dipukuli atau dibiarkan kelaparan sampai mereka mau menjajakan diri di jalanan.
"Kami tidak punya panggilan yang lebih tinggi daripada menyelamatkan anak-anak dan melindungi ketidakberdosaan mereka. Sampai sekarang prostitusi anak masih menjadi kejahatan paling kejam dan tidak terampuni di negara ini," kata Direktur FBI Robert Mueller, Rabu (25/6) atau Kamis.
Secara keseluruhan, 345 orang ditangkap, termasuk 290 penjaja seks dewasa, dalam operasi yang berakhir pekan ini. Sejak 2003, 308 germo dan pelacur telah diadili di pengadilan negara bagian dan federal karena memaksa anak-anak menjadi penjaja seks. Menurut Mueller, sedikitnya 433 anak korban bisnis ini telah diselamatkan.
Kota-kota yang menjadi sasaran itu adalah Atlanta, Boston, Dallas, Detroit, Houston, Las Vegas, Los Angeles, Miami, Montgomery County di Maryland, Oakland dan Sacramentor di California, Phoenix, Reno di Nevada, Tampa, Toledo, Ohio dan Washington.
Persoalan prostitusi anak menjadi semakin penting ketika terjadi peningkatan jumlah germo yang menawarkan 'dagangan' lewat online kepada pelanggan. Kemudian, FBI menitikberatkan penyelidikannya pada perdagangan seks anak yang bersifat lintas negara bagian.
Namun, menangani kasus semacam ini ternyata tidak mudah. Misalnya, pada April 2006, dakwaan terhadap seorang pria Nevada berakhir menggantung karena seorang korban berusia 14 tahun menolak bersaksi. Beberapa bulan kemudian, panel juri kedua menyatakan Juan Rico Doss dari Reno Nevada bersalah karena memaksa dua gadis (14 dan 16 tahun) menjual diri di Los Angeles, Sacramento, San Francisco, dan Oakland.
Sebuah studi di University of Pennsylvania memperkirakan, hampir 300.000 anak di AS berisiko tinggi dikomersialkan secara seksual. "Sebagian besar dari mereka melarikan diri atau diusir dari rumah," kata Ernie Allen, Presiden Pusat Anak Hilang dan Tereksploitasi Nasional.
Allen menyebut anak-anak ini sebagai korban. "Ini perbudakan abad ke-21. Mereka tidak punya kemampuan untuk melepaskan diri," kata Allen. (cc)

Senin, 09 Juni 2008

Tidak Mau Cerai Istri Dicekik Di Perum PBI



Monday, 09 June 2008
KRC, Malang
Gara-gara rumah tangganya tak harmonis, ibu muda tinggal di perumahan elit Pondok Blimbing Indah (PBI), AM, 29, mengajukan gugat cerai kepada suaminya berinisial RA, 33. Namun gugatan cerai ini justru membuat RA makin emosi dan sering melakukan tindak kekerasan terhadap AM. Puncaknya Minggu (8/6), AM tak kuat lagi menahan kesabaran dan mengadukan RA ke Polresta Malang.Informasi yang dihimpun KRC, rumah tangga yang dibina pasutri RA dan AM sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang kini sudah berusia 4 tahun. Namun ketika sang buah hati membutuhkan perhatian lebih karena mulai memasuki masa sekolah di taman kanak-kanak (TK), pasutri ini justru dilanda masalah berkepanjangan. “Saat ini RA sedang menjalani sidang gugat cerai yang diajukan AM,” ujar sumber KRC yang ditemui di Mapolresta Malang, Minggu (8/6).AM menggugat cerai karena dirinya sering menjadi sasaran tindak kekerasan yang dilakukan RA. Sedangkan RA berbuat demikian karena terbakar api cemburu. Ia sering menuduh korban berselingkuh sehingga membuatnya tak bisa mengendalikan emosi. Akhirnya, AM meminta cerai pada RA.Meskipun gugatan cerai itu sudah memasuki masa persidangan tetapi RA tetap bersikukuh tidak ingin bercerai dengan AM. Tidak adanya kesepahaman antara keduanya justru membuat mereka sering terlibat pertengkaran. Ini mencapai puncaknya ketika RA memarahi AM pada Sabtu (7/6) pukul 20.00 WIB. Malam itu RA dengan emosi mencekik leher AM hingga korban sempat sulit untuk bernapas. Beruntung kejadian itu diketahui pembantu rumah tangga yang langsung melerai pertengkaran itu. Korban yang ketakutan akhirnya mengadukan tindak kekerasan itu ke keluarganya. Tak ingin kejadian serupa terulang maka keluarga korban memutuskan membawa kasus itu ke polisi.Kapolresta Malang, AKBP Drs Atang Heradi MH melalui Kasat Reskrim, AKP MP Sitanggang SIK, membenarkan adanya pengaduan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari AM. Saat melapor, korban langsung dibawa ke IRD RSSA Malang untuk divisum.“Setelah divisum, korban dan beberapa saksi diperiksa untuk menjelaskan kronologi dari tindak kekerasan yang dilakukan pelaku,” pungkas Sitanggang.(jj)

Kecelakaan Maut Bus Terbakar 3 Tewas

KRC, BATU -
Suasana ceria di dalam bus wisata yang mengangkut rombongan murid TK Dharma Wanita, Desa Karangdiyeng, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berganti teriakan panik dan jerit tangis. Rencana liburan ke tempat wisata Jatim Park, Batu, Jatim, musnah. Gara-garanya, bus wisata PO Santoso bernopol AG 6678 PU yang mereka tumpangi ludes setelah terbakar di Jalan Dewi Sartika, dekat terminal Kota Batu, Jawa Timur, sekitar pukul 09.30 WIB kemarin (9/6).Akibat peristiwa itu, dua siswa dan seorang wali siswa terpanggang hidup-hidup. Dua belas penumpang lainnya menderita luka bakar. Tiga korban tewas itu bernama Suyati, 27; Husni Mubaroq, 6; dan Agustin Nur Umami, 7. Mereka adalah warga Desa Karangdiyeng. Sepuluh penumpang yang luka-luka dilarikan ke RS Baptis dan Rumah Sakit Haji (RSH) Batu. Radar Mojokerto (Grup Jawa Pos) melaporkan, bus nahas itu berangkat dari Mojokerto sekitar pukul 07.00. Bus yang mengangkut 53 siswa TK serta 54 wali siswa dan guru itu tiba di Batu sekitar pukul 09.10. Di SPBU Beji, sekitar 5 km dari tempat kejadian perkara (TKP), bus mengisi solar. "Rombongan wisata ini dalam rangka wisata perpisahan siswa," ujar Miani, kepala sekolah TK Dharma Wanita, yang ditemui Radar Malang (Grup Jawa Pos) di Mapolres Batu. Miani sendiri selamat dalam peristiwa itu.Setelah mengisi bahan bakar, bus langsung meluncur ke arah Batu. Tiba di belokan jembatan Jl Dewi Sartika, bus dihentikan petugas Dinas Perhubungan Kota Batu. ''Kami melihat dua petugas menghentikan laju bus,'' kata Indah Sriyani, 67, salah seorang penumpang yang selamat, saat dirawat di RS Haji Kota Batu. Sekitar 30 meter dari titik pemberhentian, sopir bus Maskuri, 48, dan kernetnya, Slamet, 30, keluar. Mereka menemui petugas LLAJ (lalu lintas angkutan jalan) Kantor Perhubungan untuk membayar retribusi. ''Saya melihat mereka bicara serius,'' kata Sriyani. Saat ditinggalkan Maskuri dan kernetnya, kondisi mesin bus masih menyala. Versi sopir, bus sudah di-hand rem dan ban depan sudah diberi balok kayu. Dari situlah tragedi berawal. Diduga karena tak kuat menahan beban penumpang, setelah tiga menit berhenti, mendadak bus mundur. Arahnya serong ke kanan. Tahu bus berjalan tanpa sopir, seluruh penumpang panik. Mereka berteriak-teriak. Anak-anak menangis. Penumpang wanita pun menjerit-jerit. Suasana sangat kacau. "Allahu akbar... Allahu akbar. Cuma itu yang bisa saya ucapkan kala itu,'' kenang Sulastri, penumpang lain yang selamat, di RSH. Karena jalan menanjak, laju mundur bus cukup kencang. Diperkirakan sekitar 40 km/jam. Setelah melaju mundur sekitar 75 meter, bodi bus bagian belakang menabrak toko kasur dan warung nasi Songo di kanan jalan. Terdengar ledakan keras saat bodi belakang menabrak toko dan warung itu. Diduga kuat ledakan berasal dari lima kompor yang menyala di warung. Api pun menyala dan menyambar bodi belakang. "Saya melihat tiga orang terlempar dari dalam bus dan ikut terbakar di reruntuhan warung," tutur Mardi, saksi mata di TKP. Tiga orang yang terlempar itu belakangan diketahui sebagai korban meninggal. Tahu ada api dan bunyi ledakan, penumpang bertambah panik. Seluruh penumpang berusaha menyelamatkan diri. Ada yang lari menuju pintu belakang, ada yang pilih ke pintu depan. Sriyani sendiri waktu itu mencoba meraih pembuka pintu belakang, namun tak berhasil. Dia pun lari ke depan. Namun, penumpang lainnya malah mendorongnya ke arah pintu belakang. Dalam kondisi panik itu, Sriyani pingsan. Dia kembali sadar setelah seseorang menyeret kakinya keluar dari pintu belakang bus yang pintunya sudah dapat dibuka. Nuriadi, 38, penumpang lain yang selamat, menceritakan, begitu melihat kobaran api di bagian belakang bus, dia teringat anaknya, Rohmatul. Dia menemukan anaknya duduk di antara kursi bus. Kakinya menghitam kena api. Dia pun mengambil langkah pintas. Nuriadi lekas menggendong anaknya dan melompati satu per satu kursi penumpang. ''Saya tak pedulikan apa-apa, pikir saya yang penting selamat,'' tutur Nuriadi yang ditemui di RS Baptis, Kota Batu. Penumpang lain tidak kalah panik. Mereka terus berteriak minta tolong. Apalagi api semakin besar. Warga sekitar dan petugas berusaha mengevakuasi para penumpang. Satu per satu penumpang dikeluarkan dan dikumpulkan di halaman BPR Rinjani, sekitar 20 meter dari TKP, untuk mendapatkan pertolongan pertama. Setelah bus kosong, api terlihat semakin besar. Khawatir kebakaran merembet ke rumah warga, polisi dibantu warga berupaya membawa bus ke tengah jalan. Sopir bus Maskuri yang panik nekat naik ke kemudi. Dia pun membawa bus berjalan ke tengah. Namun, tiba-tiba Maskuri melompat dari bus. Setelah itu, bus kembali meledak keras. Api kemudian melalap seluruh bodi dan kursi. Bus pun melaju sendiri dan berhenti setelah menabrak trotoar. Ledakan keras kembali terjadi setelah bus berhenti. Tidak berselang lama, kendaraan PMK Kota Batu datang ke TKP dan langsung melakukan pemadaman. Satu jam kemudian api padam. Petugas dan warga lantas mencari para penumpang. Di tumpukan warung yang terbakar, petugas menemukan tiga korban yang sudah meninggal dalam kondisi mengenaskan. Tiga korban pun dievakuasi ke kamar jenazah RSSA Malang untuk keperluan otopsi. Hingga sore kemarin, empat korban yang kritis dirawat di RS Baptis. Mereka adalah Adin, 6; Ari, 6; Sulistyowati, 42; dan Farida, 26. Korban luka ringan dirawat di RSH Batu. Antara lain, Maslukah, 35; Nurida; Isma Hani, 41; Rohmatul, 7; Aziz, 6; dan Bagas, 6. (Selengkapnya lihat grafis). Hingga tadi malam, korban luka berat masih dirawat. Berkaitan dengan insiden kemarin, delapan saksi diperiksa oleh Kepolisian Resor (Polres) Kota Batu. Hingga kini belum ditentukan tersangka kasus terbakarnya bus yang mengakibatkan tiga orang tewas terpanggang itu. Enam di antara mereka adalah petugas DLLAJ Kota Batu, seorang kernet, dan sopir bus nahas tersebut. "Mereka masih dimintai keterangan mengenai kejadian ini. Statusnya masih terperiksa. Belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka karena sedang berproses," kata�Kepala Kepolisian Wilayah Malang Komisaris Besar Polisi Syafrizal Ahiar. (ard)

Selasa, 08 April 2008

Anak Ketua Dewan Diduga Aniayah

KRC, Malang
Upaya Polresta Malang menjemput paksa Rs,15, tersangka pengeroyokan terhadap Crislok,15, dan Dona Ervanda,15, sore kemarin (2/4) gagal. Pasalnya, pihak salah satu SMAN di Kota Malang, tempat Rs sekolah keberatan atas proses penangkapan yang dilakukan polisi di sekolah. Pihak sekolah menyarankan polisi berurusan dengan orang tua Rs yang menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Malang Priyatmoko Oetomo. ’"Penangkapan itu terkendala karena birokrasi sekolah. Oleh sebab itu kami merencanakan pemanggilan via surat kepada tersangka," kata Kepala Unit Penyidik Perempuan dan Anak Polresta Malang Ipda Jayanti Harahap. Jayanti mengurai, peristiwa pengeroyokan terjadi pada Kamis (27/3) sekitar pukul 16.30 di Jalan Danau Grati, Sawojajar. Korbannya dua orang teman satu sekolah tersangka, yakni Crislok,15, dan Dona Ervanda,15. Crislok menderita luka robek pada raut wajahnya akibat pukulan botol bir Jack Daniel’s. Sedang Dona terluka pada sekujur tubuhnya akibat terkena pukulan tangan kosong. Di hadapan penyidik, kedua korban mengaku pelakunya adalah Rs bersama lima temannya. Kelima rekan Rs tersebut adalah, Ad, Sl, Gl, Mr dan Dt. Jayanti mengatakan awal permasalahan adalah akibat salah paham di antara kelompok korban dan kelompok tersangka. "Kelompok tersangka merasa diejek oleh kelompok korban," kata Jayanti. Berawal dari perselisihan itu, Kamis usai pulang sekolah, Crislok, Dona dan Arif (saksi) mendatangi kelompok tersangka yang cangkrukan di pinggir jalan samping sekolah. "Tujuannya mau minta maaf," kata Jayanti. Niat baik korban ternyata bertepuk sebelah tangan. Belum dapat respons, Rs langsung memukul Dona menggunakan tangan kosong. Tahu temannya dipukul, Crislok mencoba memisah. Namun upaya warga Jl Danau Maninjau, Sawojajar ini gagal, setelah keburu dihantam Rs menggunakan botol bir, hingga pecah. Pukulan itu mengenai wajah Crislok, hingga akhirnya terjatuh dengan raut wajah penuh darah. Selanjutnya, lima teman Rs lekas gantian menghajar kedua korban yang masih terkapar di jalan. Para tersangka kabur, setelah melihat Crislok serta Dona tak berdaya melawan. Akibat kejadian ini, orang tua para korban lekas melaporkan perbuatan pelaku ke Polresta Malang. Sebagai pelengkap laporan, polisi membawa korban ke IRD RSSA untuk dimintakan bukti visum et repertum. Sebagai pelengkap, polisi juga menyita baju seragam mereka yang masih bersimbah darah serta pecahan botol bir yang digunakan pelaku untuk memukul wajah Crislok. Dalam laporannya, para tersangka dijerat Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. Sementara itu, Priyatmoko Oetomo ketika dikonfirmasi membenarkan apabila Rs adalah anaknya. ’Dia (Rs,Red) memang anak saya. Saya kira permasalahan gelut itu cukup diselesaikan sampai tingkat sekolah saja," kata Priyatmoko ketika dikonfirmasi melalui HP-nya, petang kemarin. Jika masalah ini dilanjutkan ke polisi, sebagai orang tua, Priyo mengaku tak bisa berbuat apa-apa. "Kami akan menuruti semua prosedur hukum," janjinya. Moko, sapaan akrabnya, mengaku usai kejadian dia lekas datang ke sekolah untuk mengetahui secara jelas bagaimana kronologis kejadiannya. Dia juga minta kepada pihak sekolah agar diselesaikan di tingkat sekolah saja karena pelakunya adalah siswa yang masih masuk dalam kategori di bawah umur. Tak hanya pihak sekolah yang ia datangi, Priyo megaku juga sudah mendatangi orang tua korban, meminta agar kejadian ini diselesaikan secara kekeluargaan. (ar)